Senin, 20 Oktober 2025

X APHP 1- " Jangan Panik! Bikin Program Itu Gampang Kalau Punya 'Resep Rahasia' (Pseudocode)"

 

Jangan Panik! Bikin Program Itu Gampang Kalau Punya 'Resep Rahasia' (Pseudocode)

Halo, girls and boys APHP kece di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen dan teman-teman coding lainnya! 👩‍💻👨‍💻

Pernah dengar kata Pseudocode? Kedengarannya keren, tapi mungkin bikin kita mikir, "Aduh, ini pasti bahasa coding tingkat dewa lagi!" 🤯 Eits, santai! Justru pseudocode itu jembatan yang bikin dunia ide kita nyambung ke dunia komputer. Anggap aja ini adalah resep rahasia sebelum kita benar-benar masak (bikin program).

Apa Sih Pseudocode Itu? (Analogi Resep Masakan)

Coba bayangin, Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) itu kan jagonya mengubah bahan mentah jadi produk keren, misalnya bikin keripik pisang!

Sebelum kamu benar-benar ke dapur dan ngoding dengan pisang, kamu pasti butuh langkah-langkah tertulis yang jelas, kan? Mulai dari kupas, iris, kasih bumbu, goreng, sampai kemas.

Pseudocode itu mirip banget sama Daftar Langkah (Prosedur) di Resep Masakan!

  • Dia pakai bahasa kita sehari-hari (Bahasa Indonesia atau Inggris santai).

  • Tapi, formatnya harus terstruktur dan mirip perintah komputer (pakai kata kunci kayak: MULAI, BACA, JIKA, LAKUKAN, TAMPILKAN, SELESAI).

  • Tujuannya: Biar siapa pun yang baca (terutama diri sendiri dan programmer lain) langsung paham alur logikanya, bahkan sebelum tahu mau pakai bahasa pemrograman apa (misalnya: Python, Java, atau C++).

Intinya, pseudocode adalah cetak biru logika program yang dekat dengan bahasa manusia, tapi formatnya sudah "mirip" bahasa komputer.


Kenapa Harus Pakai 'Resep Rahasia' Ini?

Kenapa kita gak langsung ngoding aja?

  1. Anti Error Dini: Kalau resepnya berantakan, keripiknya gagal, kan? Sama, kalau logikanya di pseudocode sudah benar, kemungkinan error saat ngoding beneran jadi kecil.

  2. Jembatan Komunikasi: Kamu bisa tunjukkan pseudocode ini ke guru atau teman dan bilang, "Ini lho, Bu/Bro, alur programku begini." Gak perlu pusing-pusing jelasin kode yang rumit!

  3. Fleksibel: Mau diimplementasikan di komputer jenis apapun, pakai bahasa pemrograman apapun, logikanya tetap sama!


Contoh Nyata di APHP SMKN 1 Kedawung Sragen: Program Cek Kualitas Bahan

Di APHP, kalian sering banget kan, mengecek kualitas bahan baku sebelum diolah? Misalnya, saat menerima pasokan singkong untuk diolah jadi tepung atau keripik. Ada kriteria yang harus dipenuhi.

Yuk, kita buat program sederhana untuk menentukan APAKAH SINGKONG ITU LAYAK OLAH atau TIDAK?

🎯 Rancangan Solusi dalam Pseudocode

Kita tentukan dulu aturannya:

  1. Singkong Layak Olah jika beratnya lebih dari 500 gram DAN tidak ada bagian yang busuk (Kualitas = Baik).

  2. Selain itu, singkong dianggap Belum Layak Olah atau Perlu Sortir Ulang.

Judul Program:

PROGRAM Pengecekan_Kualitas_Singkong_APHP


Deklarasi (Persiapan Alat & Bahan):

DEKLARASI

  Berat : bilangan_bulat // Satuan gram

  Kualitas : teks // Isi: "Baik" atau "Busuk"


Deskripsi (Langkah-langkah Memasak):

MULAI

  TAMPILKAN "Masukkan Berat Singkong (dalam gram): "

  BACA Berat // Komputer menerima input berat

  

  TAMPILKAN "Masukkan Kualitas Singkong (ketik: Baik/Busuk): "

  BACA Kualitas // Komputer menerima input kualitas

  

  // LOGIKA PENGAMBILAN KEPUTUSAN (The Core of the Program)

  JIKA (Berat > 500) DAN (Kualitas = "Baik") MAKA

    TAMPILKAN "HASIL: SINGKONG LAYAK OLAH!"

  SELAIN ITU

    TAMPILKAN "HASIL: BELUM LAYAK OLAH (Perlu Sortir Ulang/Tolak)"

  SELESAI_JIKA

  

SELESAI


💡 Analogi dan Cara Kerja:

Bayangkan kode di atas adalah Petugas Sortir otomatis.

  1. Petugas (program) bertanya (TAMPILKAN/BACA) ke siswa: "Berapa beratnya?" dan "Gimana kondisinya?"

  2. Petugas menganalisis (JIKA): "Oke, beratnya di atas 500 gram DAN kondisinya baik. Berarti LULUS!"

  3. Kalau salah satu syarat tidak terpenuhi (misal beratnya cuma 400 gram, atau beratnya pas tapi ada busuknya), maka Petugas akan bilang, "Maaf, GAGAL!"

Keren, kan? Logika yang kita pakai sehari-hari di lab APHP, ternyata bisa kita tuliskan dengan rapi dalam format pseudocode sebelum diterjemahkan ke bahasa pemrograman!

Jadi, jangan takut sama yang namanya coding. Kuasai dulu resep rahasianya (pseudocode), dan kamu siap jadi programmer tangguh dari APHP SMK Negeri 1 Kedawung Sragen! 💪


Ini video dari YouTube yang menjelaskan tentang kegiatan di SMK Negeri 1 Kedawung Sragen, termasuk jurusan pertaniannya.

Mengelola Hasil Pertanian yang Berkualitas: SMKN 1 Kedawung Sragen


Senin, 13 Oktober 2025

Teknik dan Prosedur Pasteurisasi yang Efektif untuk Produksi Susu Kedelai Komersial.





1. Konsep Dasar Pasteurisasi Susu Kedelai

Susu kedelai adalah minuman nabati yang kaya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu kelemahan utamanya adalah daya simpan yang pendek karena mudah rusak akibat aktivitas mikroorganisme.

Pasteurisasi adalah perlakuan panas terkendali yang diterapkan pada susu kedelai untuk:

  1. Membunuh sebagian besar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) dan sebagian besar mikroorganisme pembusuk.

  2. Memperpanjang umur simpan produk (dari beberapa jam menjadi beberapa hari, terutama jika diikuti pendinginan).

  3. Mempertahankan kualitas sensorik (rasa, aroma, warna) dan nutrisi susu kedelai semaksimal mungkin, karena suhu pemanasannya di bawah titik didih (100∘C).

Metode Pasteurisasi

Dua metode utama yang sering digunakan adalah:

Metode

Suhu dan Waktu

Keterangan

Low Temperature Long Time (LTLT)

Pemanasan pada suhu rendah dalam waktu lama, misalnya 63∘C selama 30 menit.

Metode yang lebih sederhana dan cocok untuk skala kecil.

High Temperature Short Time (HTST)

Pemanasan pada suhu tinggi dalam waktu singkat, misalnya 72∘C selama 15 detik atau pada susu kedelai sering diterapkan 72∘C selama 30 menit (jika dilakukan setelah pengemasan).

Lebih efisien untuk skala besar, dapat memberikan umur simpan yang lebih panjang.

Pemilihan suhu dan waktu yang tepat sangat penting karena akan memengaruhi mutu akhir dan daya simpan susu kedelai. Jika terlalu rendah, bakteri tidak mati; jika terlalu tinggi atau terlalu lama, nutrisi dan rasa dapat menurun.


2. Langkah Kritis dalam Pasteurisasi Susu Kedelai

Proses pasteurisasi yang efektif harus dikombinasikan dengan praktik kebersihan yang baik (sanitasi) dan penanganan pasca-pasteurisasi yang tepat:

  1. Pra-Pasteurisasi (Pengolahan Awal):

    • Pencucian dan Perendaman: Kedelai dicuci bersih dan direndam (misalnya 3-12 jam) untuk memudahkan pengupasan dan penggilingan.

    • Penggilingan dan Penyaringan: Kedelai digiling bersama air untuk mendapatkan bubur kedelai, lalu disaring untuk menghasilkan sari kedelai mentah (sering disebut perebusan pendahuluan dilakukan untuk menghilangkan aroma langu).

    • Penambahan Bahan: Gula dan perisa ditambahkan ke dalam sari kedelai.

  2. Pasteurisasi:

    • Sari kedelai dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditetapkan (misalnya 70∘C selama 30 menit).

    • Suhu harus dipantau secara ketat menggunakan termometer untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

  3. Pasca-Pasteurisasi:

    • Pengemasan (Pengisian): Susu kedelai segera diisi ke dalam botol/kemasan steril. Pengisian harus dilakukan dengan cepat dan higienis (terkadang pengemasan dilakukan sebelum pasteurisasi untuk menghindari kontaminasi ulang).

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, susu kedelai harus segera didinginkan (misalnya hingga <10∘C) untuk mencegah perkembangbiakan spora bakteri yang mungkin masih hidup.

    • Penyimpanan Dingin: Produk akhir harus disimpan dalam suhu rendah (lemari es) untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan.


3. Contoh Nyata di Lingkungan SMK N 1 Kedawung Sragen Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP)

Jurusan APHP di SMK N 1 Kedawung Sragen memiliki fokus pada pengolahan hasil pertanian, termasuk pengolahan hasil pangan seperti susu kedelai, sebagai bagian dari program wirausaha atau praktik pengolahan.

Aplikasi Praktis: Unit Produksi Susu Kedelai "APHP Sehat" (Contoh Kasus)

  1. Integrasi Kurikulum:

    • Siswa belajar teori pasteurisasi (prinsip termal, jenis-jenis bakteri, metode LTLT vs. HTST) dalam mata pelajaran Produksi Pengolahan Hasil Nabati.

    • Mereka melakukan praktik di Laboratorium atau Teaching Factory APHP untuk membuat susu kedelai.

  2. Pelaksanaan Proses Pasteurisasi:

    • Siswa dapat menggunakan Panci Double Jacket (penangas air) atau Mesin Pasteurisasi skala kecil (jika tersedia) untuk memastikan suhu pemanasan merata dan terkontrol, sesuai dengan metode LTLT (63∘C selama 30 menit) yang umumnya lebih mudah diaplikasikan di laboratorium sekolah.

    • Mereka akan mencatat dan memantau suhu menggunakan termometer yang telah terkalibrasi.

  3. Pengendalian Kualitas Kritis (CCP):

    • Sanitasi Peralatan: Siswa harus memastikan semua peralatan (panci, saringan, botol) telah disterilkan untuk menghindari kontaminasi awal.

    • Suhu dan Waktu Pasteurisasi: Tahap ini menjadi Titik Pengendalian Kritis (CCP). Siswa bertanggung jawab memastikan susu mencapai suhu target dan ditahan selama waktu yang ditentukan.

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, siswa langsung memindahkan kemasan susu kedelai ke bak berisi air es untuk Pendinginan Cepat (misalnya hingga 4∘C) sebelum disimpan di refrigerator.

  4. Wirausaha Sekolah:

    • Susu kedelai yang telah dipasteurisasi dikemas menarik dan dijual di kantin sekolah atau etalase produk APHP sekolah.

    • Siswa membandingkan daya simpan produk yang dipasteurisasi dengan yang tidak (kontrol), sebagai bukti nyata efektivitas proses. Susu kedelai pasteurisasi akan bertahan lebih lama (misalnya 3-5 hari di suhu kulkas) dibandingkan yang hanya direbus biasa.

Penerapan pasteurisasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu, tetapi juga melatih siswa APHP untuk menguasai teknologi pengolahan yang sesuai dengan standar industri, sehingga mereka siap berwirausaha atau bekerja di industri pengolahan pangan.

Video ini menunjukkan kegiatan praktik dari siswa SMK Jurusan APHP, yang dapat mencakup proses seperti pasteurisasi.

Belajar mengelola hasil pertanian yang berkualitas; SMKN 1 Kedawung Sragen


1. Konsep Dasar Pasteurisasi Susu Kedelai

Susu kedelai adalah minuman nabati yang kaya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu kelemahan utamanya adalah daya simpan yang pendek karena mudah rusak akibat aktivitas mikroorganisme.

Pasteurisasi adalah perlakuan panas terkendali yang diterapkan pada susu kedelai untuk:

  1. Membunuh sebagian besar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) dan sebagian besar mikroorganisme pembusuk.

  2. Memperpanjang umur simpan produk (dari beberapa jam menjadi beberapa hari, terutama jika diikuti pendinginan).

  3. Mempertahankan kualitas sensorik (rasa, aroma, warna) dan nutrisi susu kedelai semaksimal mungkin, karena suhu pemanasannya di bawah titik didih (100∘C).

Metode Pasteurisasi

Dua metode utama yang sering digunakan adalah:

Metode

Suhu dan Waktu

Keterangan

Low Temperature Long Time (LTLT)

Pemanasan pada suhu rendah dalam waktu lama, misalnya 63∘C selama 30 menit.

Metode yang lebih sederhana dan cocok untuk skala kecil.

High Temperature Short Time (HTST)

Pemanasan pada suhu tinggi dalam waktu singkat, misalnya 72∘C selama 15 detik atau pada susu kedelai sering diterapkan 72∘C selama 30 menit (jika dilakukan setelah pengemasan).

Lebih efisien untuk skala besar, dapat memberikan umur simpan yang lebih panjang.

Pemilihan suhu dan waktu yang tepat sangat penting karena akan memengaruhi mutu akhir dan daya simpan susu kedelai. Jika terlalu rendah, bakteri tidak mati; jika terlalu tinggi atau terlalu lama, nutrisi dan rasa dapat menurun.


2. Langkah Kritis dalam Pasteurisasi Susu Kedelai

Proses pasteurisasi yang efektif harus dikombinasikan dengan praktik kebersihan yang baik (sanitasi) dan penanganan pasca-pasteurisasi yang tepat:

  1. Pra-Pasteurisasi (Pengolahan Awal):

    • Pencucian dan Perendaman: Kedelai dicuci bersih dan direndam (misalnya 3-12 jam) untuk memudahkan pengupasan dan penggilingan.

    • Penggilingan dan Penyaringan: Kedelai digiling bersama air untuk mendapatkan bubur kedelai, lalu disaring untuk menghasilkan sari kedelai mentah (sering disebut perebusan pendahuluan dilakukan untuk menghilangkan aroma langu).

    • Penambahan Bahan: Gula dan perisa ditambahkan ke dalam sari kedelai.

  2. Pasteurisasi:

    • Sari kedelai dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditetapkan (misalnya 70∘C selama 30 menit).

    • Suhu harus dipantau secara ketat menggunakan termometer untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

  3. Pasca-Pasteurisasi:

    • Pengemasan (Pengisian): Susu kedelai segera diisi ke dalam botol/kemasan steril. Pengisian harus dilakukan dengan cepat dan higienis (terkadang pengemasan dilakukan sebelum pasteurisasi untuk menghindari kontaminasi ulang).

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, susu kedelai harus segera didinginkan (misalnya hingga <10∘C) untuk mencegah perkembangbiakan spora bakteri yang mungkin masih hidup.

    • Penyimpanan Dingin: Produk akhir harus disimpan dalam suhu rendah (lemari es) untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan.


3. Contoh Nyata di Lingkungan SMK N 1 Kedawung Sragen Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP)

Jurusan APHP di SMK N 1 Kedawung Sragen memiliki fokus pada pengolahan hasil pertanian, termasuk pengolahan hasil pangan seperti susu kedelai, sebagai bagian dari program wirausaha atau praktik pengolahan.

Aplikasi Praktis: Unit Produksi Susu Kedelai "APHP Sehat" (Contoh Kasus)

  1. Integrasi Kurikulum:

    • Siswa belajar teori pasteurisasi (prinsip termal, jenis-jenis bakteri, metode LTLT vs. HTST) dalam mata pelajaran Produksi Pengolahan Hasil Nabati.

    • Mereka melakukan praktik di Laboratorium atau Teaching Factory APHP untuk membuat susu kedelai.

  2. Pelaksanaan Proses Pasteurisasi:

    • Siswa dapat menggunakan Panci Double Jacket (penangas air) atau Mesin Pasteurisasi skala kecil (jika tersedia) untuk memastikan suhu pemanasan merata dan terkontrol, sesuai dengan metode LTLT (63∘C selama 30 menit) yang umumnya lebih mudah diaplikasikan di laboratorium sekolah.

    • Mereka akan mencatat dan memantau suhu menggunakan termometer yang telah terkalibrasi.

  3. Pengendalian Kualitas Kritis (CCP):

    • Sanitasi Peralatan: Siswa harus memastikan semua peralatan (panci, saringan, botol) telah disterilkan untuk menghindari kontaminasi awal.

    • Suhu dan Waktu Pasteurisasi: Tahap ini menjadi Titik Pengendalian Kritis (CCP). Siswa bertanggung jawab memastikan susu mencapai suhu target dan ditahan selama waktu yang ditentukan.

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, siswa langsung memindahkan kemasan susu kedelai ke bak berisi air es untuk Pendinginan Cepat (misalnya hingga 4∘C) sebelum disimpan di refrigerator.

  4. Wirausaha Sekolah:

    • Susu kedelai yang telah dipasteurisasi dikemas menarik dan dijual di kantin sekolah atau etalase produk APHP sekolah.

    • Siswa membandingkan daya simpan produk yang dipasteurisasi dengan yang tidak (kontrol), sebagai bukti nyata efektivitas proses. Susu kedelai pasteurisasi akan bertahan lebih lama (misalnya 3-5 hari di suhu kulkas) dibandingkan yang hanya direbus biasa.

Penerapan pasteurisasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu, tetapi juga melatih siswa APHP untuk menguasai teknologi pengolahan yang sesuai dengan standar industri, sehingga mereka siap berwirausaha atau bekerja di industri pengolahan pangan.

Video ini menunjukkan kegiatan praktik dari siswa SMK Jurusan APHP, yang dapat mencakup proses seperti pasteurisasi.

Belajar mengelola hasil pertanian yang berkualitas; SMKN 1 Kedawung Sragen



1. Konsep Dasar Pasteurisasi Susu Kedelai

Susu kedelai adalah minuman nabati yang kaya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu kelemahan utamanya adalah daya simpan yang pendek karena mudah rusak akibat aktivitas mikroorganisme.

Pasteurisasi adalah perlakuan panas terkendali yang diterapkan pada susu kedelai untuk:

  1. Membunuh sebagian besar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) dan sebagian besar mikroorganisme pembusuk.

  2. Memperpanjang umur simpan produk (dari beberapa jam menjadi beberapa hari, terutama jika diikuti pendinginan).

  3. Mempertahankan kualitas sensorik (rasa, aroma, warna) dan nutrisi susu kedelai semaksimal mungkin, karena suhu pemanasannya di bawah titik didih (100∘C).

Metode Pasteurisasi

Dua metode utama yang sering digunakan adalah:

Metode

Suhu dan Waktu

Keterangan

Low Temperature Long Time (LTLT)

Pemanasan pada suhu rendah dalam waktu lama, misalnya 63∘C selama 30 menit.

Metode yang lebih sederhana dan cocok untuk skala kecil.

High Temperature Short Time (HTST)

Pemanasan pada suhu tinggi dalam waktu singkat, misalnya 72∘C selama 15 detik atau pada susu kedelai sering diterapkan 72∘C selama 30 menit (jika dilakukan setelah pengemasan).

Lebih efisien untuk skala besar, dapat memberikan umur simpan yang lebih panjang.

Pemilihan suhu dan waktu yang tepat sangat penting karena akan memengaruhi mutu akhir dan daya simpan susu kedelai. Jika terlalu rendah, bakteri tidak mati; jika terlalu tinggi atau terlalu lama, nutrisi dan rasa dapat menurun.


2. Langkah Kritis dalam Pasteurisasi Susu Kedelai

Proses pasteurisasi yang efektif harus dikombinasikan dengan praktik kebersihan yang baik (sanitasi) dan penanganan pasca-pasteurisasi yang tepat:

  1. Pra-Pasteurisasi (Pengolahan Awal):

    • Pencucian dan Perendaman: Kedelai dicuci bersih dan direndam (misalnya 3-12 jam) untuk memudahkan pengupasan dan penggilingan.

    • Penggilingan dan Penyaringan: Kedelai digiling bersama air untuk mendapatkan bubur kedelai, lalu disaring untuk menghasilkan sari kedelai mentah (sering disebut perebusan pendahuluan dilakukan untuk menghilangkan aroma langu).

    • Penambahan Bahan: Gula dan perisa ditambahkan ke dalam sari kedelai.

  2. Pasteurisasi:

    • Sari kedelai dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditetapkan (misalnya 70∘C selama 30 menit).

    • Suhu harus dipantau secara ketat menggunakan termometer untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

  3. Pasca-Pasteurisasi:

    • Pengemasan (Pengisian): Susu kedelai segera diisi ke dalam botol/kemasan steril. Pengisian harus dilakukan dengan cepat dan higienis (terkadang pengemasan dilakukan sebelum pasteurisasi untuk menghindari kontaminasi ulang).

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, susu kedelai harus segera didinginkan (misalnya hingga <10∘C) untuk mencegah perkembangbiakan spora bakteri yang mungkin masih hidup.

    • Penyimpanan Dingin: Produk akhir harus disimpan dalam suhu rendah (lemari es) untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan.


3. Contoh Nyata di Lingkungan SMK N 1 Kedawung Sragen Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP)

Jurusan APHP di SMK N 1 Kedawung Sragen memiliki fokus pada pengolahan hasil pertanian, termasuk pengolahan hasil pangan seperti susu kedelai, sebagai bagian dari program wirausaha atau praktik pengolahan.

Aplikasi Praktis: Unit Produksi Susu Kedelai "APHP Sehat" (Contoh Kasus)

  1. Integrasi Kurikulum:

    • Siswa belajar teori pasteurisasi (prinsip termal, jenis-jenis bakteri, metode LTLT vs. HTST) dalam mata pelajaran Produksi Pengolahan Hasil Nabati.

    • Mereka melakukan praktik di Laboratorium atau Teaching Factory APHP untuk membuat susu kedelai.

  2. Pelaksanaan Proses Pasteurisasi:

    • Siswa dapat menggunakan Panci Double Jacket (penangas air) atau Mesin Pasteurisasi skala kecil (jika tersedia) untuk memastikan suhu pemanasan merata dan terkontrol, sesuai dengan metode LTLT (63∘C selama 30 menit) yang umumnya lebih mudah diaplikasikan di laboratorium sekolah.

    • Mereka akan mencatat dan memantau suhu menggunakan termometer yang telah terkalibrasi.

  3. Pengendalian Kualitas Kritis (CCP):

    • Sanitasi Peralatan: Siswa harus memastikan semua peralatan (panci, saringan, botol) telah disterilkan untuk menghindari kontaminasi awal.

    • Suhu dan Waktu Pasteurisasi: Tahap ini menjadi Titik Pengendalian Kritis (CCP). Siswa bertanggung jawab memastikan susu mencapai suhu target dan ditahan selama waktu yang ditentukan.

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, siswa langsung memindahkan kemasan susu kedelai ke bak berisi air es untuk Pendinginan Cepat (misalnya hingga 4∘C) sebelum disimpan di refrigerator.

  4. Wirausaha Sekolah:

    • Susu kedelai yang telah dipasteurisasi dikemas menarik dan dijual di kantin sekolah atau etalase produk APHP sekolah.

    • Siswa membandingkan daya simpan produk yang dipasteurisasi dengan yang tidak (kontrol), sebagai bukti nyata efektivitas proses. Susu kedelai pasteurisasi akan bertahan lebih lama (misalnya 3-5 hari di suhu kulkas) dibandingkan yang hanya direbus biasa.

Penerapan pasteurisasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu, tetapi juga melatih siswa APHP untuk menguasai teknologi pengolahan yang sesuai dengan standar industri, sehingga mereka siap berwirausaha atau bekerja di industri pengolahan pangan.

Video ini menunjukkan kegiatan praktik dari siswa SMK Jurusan APHP, yang dapat mencakup proses seperti pasteurisasi.

Belajar mengelola hasil pertanian yang berkualitas; SMKN 1 Kedawung Sragen


1. Konsep Dasar Pasteurisasi Susu Kedelai

Susu kedelai adalah minuman nabati yang kaya protein, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu kelemahan utamanya adalah daya simpan yang pendek karena mudah rusak akibat aktivitas mikroorganisme.

Pasteurisasi adalah perlakuan panas terkendali yang diterapkan pada susu kedelai untuk:

  1. Membunuh sebagian besar mikroorganisme patogen (penyebab penyakit) dan sebagian besar mikroorganisme pembusuk.

  2. Memperpanjang umur simpan produk (dari beberapa jam menjadi beberapa hari, terutama jika diikuti pendinginan).

  3. Mempertahankan kualitas sensorik (rasa, aroma, warna) dan nutrisi susu kedelai semaksimal mungkin, karena suhu pemanasannya di bawah titik didih (100∘C).

Metode Pasteurisasi

Dua metode utama yang sering digunakan adalah:

Metode

Suhu dan Waktu

Keterangan

Low Temperature Long Time (LTLT)

Pemanasan pada suhu rendah dalam waktu lama, misalnya 63∘C selama 30 menit.

Metode yang lebih sederhana dan cocok untuk skala kecil.

High Temperature Short Time (HTST)

Pemanasan pada suhu tinggi dalam waktu singkat, misalnya 72∘C selama 15 detik atau pada susu kedelai sering diterapkan 72∘C selama 30 menit (jika dilakukan setelah pengemasan).

Lebih efisien untuk skala besar, dapat memberikan umur simpan yang lebih panjang.

Pemilihan suhu dan waktu yang tepat sangat penting karena akan memengaruhi mutu akhir dan daya simpan susu kedelai. Jika terlalu rendah, bakteri tidak mati; jika terlalu tinggi atau terlalu lama, nutrisi dan rasa dapat menurun.


2. Langkah Kritis dalam Pasteurisasi Susu Kedelai

Proses pasteurisasi yang efektif harus dikombinasikan dengan praktik kebersihan yang baik (sanitasi) dan penanganan pasca-pasteurisasi yang tepat:

  1. Pra-Pasteurisasi (Pengolahan Awal):

    • Pencucian dan Perendaman: Kedelai dicuci bersih dan direndam (misalnya 3-12 jam) untuk memudahkan pengupasan dan penggilingan.

    • Penggilingan dan Penyaringan: Kedelai digiling bersama air untuk mendapatkan bubur kedelai, lalu disaring untuk menghasilkan sari kedelai mentah (sering disebut perebusan pendahuluan dilakukan untuk menghilangkan aroma langu).

    • Penambahan Bahan: Gula dan perisa ditambahkan ke dalam sari kedelai.

  2. Pasteurisasi:

    • Sari kedelai dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditetapkan (misalnya 70∘C selama 30 menit).

    • Suhu harus dipantau secara ketat menggunakan termometer untuk memastikan proses berjalan sesuai standar.

  3. Pasca-Pasteurisasi:

    • Pengemasan (Pengisian): Susu kedelai segera diisi ke dalam botol/kemasan steril. Pengisian harus dilakukan dengan cepat dan higienis (terkadang pengemasan dilakukan sebelum pasteurisasi untuk menghindari kontaminasi ulang).

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, susu kedelai harus segera didinginkan (misalnya hingga <10∘C) untuk mencegah perkembangbiakan spora bakteri yang mungkin masih hidup.

    • Penyimpanan Dingin: Produk akhir harus disimpan dalam suhu rendah (lemari es) untuk mempertahankan kualitas dan memperpanjang umur simpan.


3. Contoh Nyata di Lingkungan SMK N 1 Kedawung Sragen Jurusan Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP)

Jurusan APHP di SMK N 1 Kedawung Sragen memiliki fokus pada pengolahan hasil pertanian, termasuk pengolahan hasil pangan seperti susu kedelai, sebagai bagian dari program wirausaha atau praktik pengolahan.

Aplikasi Praktis: Unit Produksi Susu Kedelai "APHP Sehat" (Contoh Kasus)

  1. Integrasi Kurikulum:

    • Siswa belajar teori pasteurisasi (prinsip termal, jenis-jenis bakteri, metode LTLT vs. HTST) dalam mata pelajaran Produksi Pengolahan Hasil Nabati.

    • Mereka melakukan praktik di Laboratorium atau Teaching Factory APHP untuk membuat susu kedelai.

  2. Pelaksanaan Proses Pasteurisasi:

    • Siswa dapat menggunakan Panci Double Jacket (penangas air) atau Mesin Pasteurisasi skala kecil (jika tersedia) untuk memastikan suhu pemanasan merata dan terkontrol, sesuai dengan metode LTLT (63∘C selama 30 menit) yang umumnya lebih mudah diaplikasikan di laboratorium sekolah.

    • Mereka akan mencatat dan memantau suhu menggunakan termometer yang telah terkalibrasi.

  3. Pengendalian Kualitas Kritis (CCP):

    • Sanitasi Peralatan: Siswa harus memastikan semua peralatan (panci, saringan, botol) telah disterilkan untuk menghindari kontaminasi awal.

    • Suhu dan Waktu Pasteurisasi: Tahap ini menjadi Titik Pengendalian Kritis (CCP). Siswa bertanggung jawab memastikan susu mencapai suhu target dan ditahan selama waktu yang ditentukan.

    • Pendinginan Cepat: Setelah pasteurisasi, siswa langsung memindahkan kemasan susu kedelai ke bak berisi air es untuk Pendinginan Cepat (misalnya hingga 4∘C) sebelum disimpan di refrigerator.

  4. Wirausaha Sekolah:

    • Susu kedelai yang telah dipasteurisasi dikemas menarik dan dijual di kantin sekolah atau etalase produk APHP sekolah.

    • Siswa membandingkan daya simpan produk yang dipasteurisasi dengan yang tidak (kontrol), sebagai bukti nyata efektivitas proses. Susu kedelai pasteurisasi akan bertahan lebih lama (misalnya 3-5 hari di suhu kulkas) dibandingkan yang hanya direbus biasa.

Penerapan pasteurisasi ini tidak hanya menghasilkan produk pangan yang aman dan bermutu, tetapi juga melatih siswa APHP untuk menguasai teknologi pengolahan yang sesuai dengan standar industri, sehingga mereka siap berwirausaha atau bekerja di industri pengolahan pangan.

Video ini menunjukkan kegiatan praktik dari siswa SMK Jurusan APHP, yang dapat mencakup proses seperti pasteurisasi.

Belajar mengelola hasil pertanian yang berkualitas; SMKN 1 Kedawung Sragen



berpikir komputasional

💡 Ngopi Bareng Berpikir Komputasional: Jurus Sakti Anak APHP SMKN 1 Kedawung! Hai teman-teman APHP SMKN 1 Kedawung! Pernah dengar istilah B...